Siapa pun memiliki peluang yang sama untuk masuk surga, baik muda maupun tua. Dalam pergaulan sehari-hari kita sering menjumpai orang-orang muda yang enggan bicara akhirat karena menurut mereka itu urusan nanti kalau sudah tua. Padahal bukankah kematian bisa datang kapan saja ? Dan sebaliknya, ada banyak orang tua yang belum tergerak hatinya untuk memikirkan nasibnya di akhirat. Padahal, boleh jadi Allah Subhanahu Wata'ala panjangkan umurnya untuk memberi kesempatan agar kembali kepada-Nya. Banyak orang keliru dalam memandang umurnya. “Ada dua nikmat – kata Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam – yang membuat banyak orang tertipu karenanya yaitu kesehatan dan waktu yang luang”(1)
Waktu yang luang itu adalah umur yang menjadi kesempatan untuk
beramal soleh. Orang yang tidak menggunakan kesempatan tersebut
sampai tiba kematian berarti dia tertipu dengan umurnya. Apakah
Umur Bertambah atau Berkurang ? Sebelum menjawab pertanyaan
diatas, menarik kita simak ilustrasi yang dibuat oleh Amir Muhammad
Al Madri, penulis buku “Tsalatsuna Amalan Yuthil al-’Umur”
(Tiga puluh amal yang memperpanjang umur) sebagai berikut :
Seseorang
berumur 60 tahun. 20 tahun digunakannya untuk tidur dengan asumsi
rata-ratatidurnya 8 jam sehari. Dipotong masa menjelang baligh
biasanya 15 tahun dan waktu yang digunakan untuk makan, minum,
aktifitas lainnya selama 5 tahun. Maka, secara efektif, minus usia
baligh, waktu tidur, makan minum dan lain-lain, umurnya yang
tersisa untuk beramal sebenarnya selama 20 tahun saja. Jadi, dari 24
jam yang tersedia hanya sekitar 30 persen saja waktu efektif kita
untuk beramal. Bahkan, jika seluruh usia 60 tahun itu digunakannya
untuk beramal sekalipun, maka itu sebenarnya hanya baru tiga menit
untuk ukuran akhirat, karena satu hari di akhirat sama dengan 1000
tahun di dunia. Seseorang berumur 60 tahun. Jika setiap hari
rata-rata satu jam waktunya hilang tanpa amal maka telah sia-sia
umurnya selama 3 tahun. Kalau 2 jam maka hilang 6 tahun. Demikian
seterusnya setiap kehilangan satu jam tanpa amal. Bayangkan, jika
didalam waktu yang terbuang itu dia melakukan maksiat kepada Allah.
Alangkah sia-sia kehidupannya. Seseorang berumur 70 tahun. Jika 2 jam
setiap hari digunakannya untuk beramal, misalnya 1 jam untuk shalat
lima waktu dan 1 jam lagi untuk amal soleh lainnya, maka
waktupotensial untuk beramal tinggal 22 jam perhari, sama dengan 64
tahun. Hal ini berarti, 2 jam per hari yang terpakai untuk beramal
selama 70 tahun, itu hanya terhitung selama 6 tahun saja !
Dari
ilustrasi ini, kesannya umur itu merupakan kesempatan untuk beramal.
Umur yang lama (panjang) memberi kesempatan lebih banyak untuk
beramal. Umur yang pendek berarti kesempatan beramalnya lebih
sedikit. Dalam hadis Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam yang sangat popular di kalangan
kita dijelaskan bahwa apabila meninggal dunia maka terputuslah amal
seorang hamba.
Dengan
demikian, batas umur itu adalah kematian. Setiap panjang umur maka
semakin dekat dengan kematian dan semakin sedikit waktu untuk
beramal. “Orang yang baik diantara kamu adalah yang panjang umurnya
dan paling baik amalnya”, demikian Rasulullah menegaskan (2)
Dalam
konteks ini dapat dikatakan bahwa umur sebenarnya semakin hari
semakin berkurang. Tetapi, siapakah yang tahu kapan akan mati ? Allah Subhanahu Wata'ala berfiman : ” (jika kamu menyembah Allah dan bertakwa
kepada-Nya) niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan
menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya
ketetapan (ajal) Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan,
kalau kamu mengetahui.”.(3)
Ketetapan
disini maksudnya kematian. Kita hanya tahu adanya penundaan kematian
jika kita tahu kapan ajal kita datang. Kematian itu batas hidup
didunia yang menjadi rahasia Allah Subhanahu Wata'ala. Tidak seorang pun yang tahu
kapan dia mati. Dengan demikian, pada hakikatnya, tak seorang pun
yang dapat mengatakan bahwa umurnya bertambah atau berkurang. Mengapa
seorang bisa mengatakan bahwa sebuah pensil – misalnya – berubah
menjadi pendek ? Karena dia tahu ukuran sebenarnya. Bagaimana mungkin
suatu benda dikatakan harganya terlalu mahal atau terlalu murah kalau
kita tidak tahu harga pasarannya ? Jika bilangan umur bertambah maka
semakin dekat dengan kematian dan kesempatan hidup pun makin
berkurang. Dengan demikian, umur kita pun pada dasarnya berkurang.
Pendek kata, kematian ibarat tombol turn
off bagi seorang dalam beramal. Tetapi, bila umur dipahami sebagai
waktu yang terpakai untuk hidup, maka sebelum kematian datang umur
dikatakan terus bertambah. Umur akan semakin bertambah sampai
seseorang menemui ajalnya.
Setiap
manusia pasti menemui ajal yang telah ditetapkan Allah Subhanahu Wata'ala kepadanya
tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikitpun. Inilah barangkali
yang dimaksudkan oleh firman Allah Subhanahu wata'ala : “…Dan sekali-kali tidak
dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula
dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh
Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.”
(QS. Fathir [35] : 11)
Doa Panjang
Umur Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah Shallahu 'alaihi Wasallam pernah mendoakan
sahabat Anas bin Malik agar dilimpahkan banyak harta dan keturunan
serta keberkahan dalam hidupnya. Doa beliau dikabulkan oleh Allah
swt. Dalam hidupnya Anas termasuk generasi sahabat senior yang paling
akhir wafat – umur beliau mencapai lebih 100 tahun – dan
meninggalkan banyak harta dan anak.Dapatkah doa memanjangkan umur atau bisakah doa menghalangi takdir ?
Seandainya seseorang yang
rajin berdoa agar dipanjangkan umurnya meninggal dunia pada usia 60
tahun, darimana dia tahu bahwa seharusnya dia meninggal 5 atau 10
tahun sebelumnya ? Tentu dia tidak tahu sehingga tidak bisa berkata
bahwa Allah telah memanjangkan atau memendekkan umurnya. Yang sudah
pasti adalah 60 tahun merupakan umur yang telah ditakdirkan Allah
kepadanya tanpa penambahan dan pengurangan sedikitpun. Kalau begitu,
buat apa kita memohon agar dipanjangkan umur ? Bukankah permohonan
itu sia-sia disebabkan tidak ada yang tahu batas kehidupannya?
Seyogianya umur dinilai tidak sekedar dari bilangannya, melainkan
dari aktifitas yang dilakukan dalam mengisi waktu hidup yang
dimiliki. Dua orang yang memiliki waktu sama, 1 jam misalnya, dapat
melakukan aktifitas yang berbeda, baik secara kuantitas maupun
kualitasnya. Bagi seorang yang rajin dan enerjik, 8 jam kerja di
kantor dapat melakukan sepuluh aktifitas, sedangkan bagi seorang
pemalas, 8 jam itu bisa tak menghasilkan apa-apa. Inilah barangkali
yang dinamakan waktu yang penuh keberkahan. Berkah (barokah, Arab)
sejenis added value (nilai tambah). Bila segelas air yang selama ini
hanya untuk menghilangkan haus, ternyata juga dapat digunakan untuk
mengobati sakit kepala, maka kita menyebutnya air berkah.
Jadi permohonan doa agar dipanjangkan umur itu pada dasarnya
merupakan permohonan agar mendapat bimbingan (hidayah) Allah agar
umur yang tersisa dapat digunakan secara optimal untuk beribadah
kepada-Nya. Setiap kita memohon kepada Allah agar dipanjangkan
umur, itu berarti kita selalu berupaya agar setiap detik yang berlalu
dalam hidup ini senantiasa mendatangkan manfaat dan mashalahat buat
kita, baik di dunia maupun di akhirat. Inilah umur yang berkah, dan
keberkahan ini pula yang sebenarnya kita mohonkan kepada Allah.
“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati
supaya menetapi kesabaran”, (QS. Al-Ashr [103] : 1-3), demikian
Allah mengingatka agar Umur menjadi Berkah
Amir Muhammad Al Madri dalam kitabnya diatas menyebut ada 30 amal yang dapat dilakukan untuk menambah berkah umur. Disini kami kutipkan tiga saja, yaitu :
1) Dalam setiap aktifitas senantiasa mengharapkan ridho Allah.
Sebagian ulama salaf berkata : “Makan, minum,
tidur dan apapun yang dilakukan seorang mukmin karena ketaatan kepada
Allah pasti menghasilkan pahala”. Bisa melakukan banyak hal yang
bernilai pahala dalam setiap detik kehidupan membuat umur terasa
panjang karena banyak manfaat yang dihasilkan.
2) Memelihara
hubungan silaturrahim.
Silaturrahim membuat kita akan selalu diingat
orang lain, bahkan setelah meninggal dunia sekalipun. Inilah yang
membuatnya seolah-olah tetap hidup. Dalam pergaulan sehari-hari mudah
sekali kita berkenalan dengan banyak orang. Baru pertama berjumpa,
kita saling memperkenalkan nama, tempat tinggal, pekerjaan dan lain
sebagainya. Namun, kadang setelah itu kita mudah pula melupakannya.
Dalam bisnis, kita perlu relasi, rekanan atau orang yang kita kenal
untuk memperluas usaha. Tak jarang kita
mendapatkan peluang sebagai berkah dari hubungan-hubungan seperti
ini. Benarlah Rasulullah Shalallahu'alaihi Wasallam dengan sabdanya : “Siapa yang ingin
dipanjangkan sisa umurnya dan diluaskan rezekinya maka hendaklah ia
menjalin silaturrahim”.(4)
3) Berakhlak baik.
Orang baik pasti
disenangi banyak orang. Dalam setiap pergaulan ia mudah diterima,
namanya sering disebut dan diberi kesempatan. Kehadirannya dinantikan
dan ketiadaannya dipertanyakan. Keadaan ini membuatnya senantiasa
hidup sekalipun nanti setelah wafat. Inilah yang membuatnya seolah
berumur panjang (berkah). It’s nice to be a important but it’s
important to be nice (Memang baik jadi orang
penting namun jauh lebih penting menjadi orang baik) Kita tentu kenal ungkapan
ini. Jauh sebelum adanya ungkapan ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam pernah bersabda :
“Sesungguhnya kamu tidak akan bisa membahagiakan semua orang dengan
seluruh hartamu. (Tetapi) Bahagiakanlah mereka dengan wajah lembut dan
kebaikan akhlakmu”.(5)
penting namun jauh lebih penting menjadi orang baik) Kita tentu kenal ungkapan
ini. Jauh sebelum adanya ungkapan ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam pernah bersabda :
“Sesungguhnya kamu tidak akan bisa membahagiakan semua orang dengan
seluruh hartamu. (Tetapi) Bahagiakanlah mereka dengan wajah lembut dan
kebaikan akhlakmu”.(5)
Source
:
1.Hadis riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas
2.Hadis riwayat Imam Ahmad dari Abu Hurairah
3.QS. Nuh (71) : 4
1.Hadis riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas
2.Hadis riwayat Imam Ahmad dari Abu Hurairah
3.QS. Nuh (71) : 4
4.Hadis riwayat
Muttafaq alaih.
5.Hadis riwayat dari Abu Hurairah. Menurut al-Hakim
hadis ini sahih. Lihat Al-Mustadrak ala as-
hahihain, Juz 1 hal. 201, Nomor : 427-428.
hahihain, Juz 1 hal. 201, Nomor : 427-428.
